jakartaid — Investasi di kawasan industri terus jalan. Sampai akhir 2025, totalnya tembus Rp6,74 triliun.
Angkanya cukup solid, mengingat kondisi ekonomi global juga belum benar-benar stabil. Tapi nyatanya, minat pelaku usaha tetap ada. Masih banyak yang menanam modal.
Tersebar di Berbagai Wilayah
Investasi ini datang dari berbagai proyek. Ada yang perluas pabrik, ada juga pengembangan kawasan industri baru.
Sebagian besar tersebar di beberapa titik strategis di Indonesia. Bukan hanya di Jawa, tapi juga di luar pulau utama.
Manufaktur Masih Dominan
Sektor manufaktur tetap jadi penopang utama.
Industri pengolahan dan hilirisasi masih menarik bagi investor. Apalagi kalau kawasan industrinya terintegrasi—dekat pelabuhan, logistik gampang, infrastruktur sudah siap.
Beberapa pengelola kawasan bilang, minat investor memang naik. Terutama yang cari efisiensi lewat lokasi strategis dan fasilitas pendukung.
Kebijakan Pemerintah Berperan
Pemerintah juga ikut dorong. Mereka minta industri jangan numpuk di Jawa terus.
Dampaknya mulai terasa. Proyek-proyek baru bermunculan di kawasan industri luar Jawa. Perlahan tapi jalan.
Dipandang Positif oleh Pelaku Usaha
Angka ini, Rp6,74 triliun, dianggap sinyal positif.
Bagi pelaku industri, kawasan industri masih jadi opsi menarik. Ada kepastian lahan. Perizinan lebih simpel. Utilitas juga disiapkan sejak awal.
Kepercayaan itu, kata beberapa pelaku, muncul karena aturan relatif stabil. Infrastruktur juga menunjang.
Tapi Tantangan Masih Ada
Bukan berarti mulus semua.
Energi masih jadi isu. Tenaga kerja di beberapa daerah belum siap. Konektivitas juga belum merata.
Itu jadi pekerjaan rumah. Supaya momentum investasi bisa dijaga.
Harapan ke Depan
Kalau semua tantangan itu bisa diatasi, kawasan industri bisa tetap jadi lokomotif ekonomi nasional.
Minimal, investasi tetap mengalir. Itu dulu. Sisanya bertahap.
