jakartaid – Di tengah percakapan publik yang makin riuh—kadang terlalu cepat panas—muncul lagi pengingat yang sebenarnya sudah lama kita dengar. Tapi, ya itu, sering cuma lewat begitu saja.
Pramono Anung menyinggung hal yang terdengar sederhana: saling menghargai. Bukan konsep baru. Bukan juga sesuatu yang rumit di jelaskan. Tapi justru di situ letak persoalannya—karena terasa “biasa”, sering di anggap sepele.
Padahal, menurut dia, di situlah fondasi itu berdiri.
Indonesia, dengan segala perbedaannya—suku, agama, cara pandang—tidak mungkin di paksa jadi seragam. Dan memang tidak perlu. Perbedaan itu ada, nyata, dan akan terus ada. Pertanyaannya tinggal satu: mau di pakai untuk saling menjatuhkan, atau justru di jadikan kekuatan?
Pramono cenderung ke pilihan kedua. Tapi dengan syarat. Ada sikap saling menghormati yang benar-benar di jalankan, bukan sekadar jargon.
Ia menyinggung soal interaksi sosial. Hal yang kita jalani setiap hari, sering tanpa sadar. Di situ, katanya, nilai toleransi seharusnya hidup. Bukan cuma di ucapkan saat acara formal atau kampanye. Tapi hadir dalam cara orang bicara, merespons, bahkan saat berbeda pendapat.
Karena konflik, kalau di pikir-pikir, seringnya bukan soal perbedaan itu sendiri. Tapi soal cara menyikapinya.
Dan ini bukan hanya urusan pemerintah. Pramono cukup tegas di bagian ini. Menjaga persatuan, katanya, bukan pekerjaan satu pihak. Bukan tugas pejabat saja, atau tokoh tertentu. Justru, yang menentukan adalah orang-orang biasa—yang tiap hari berinteraksi, berkomentar, bereaksi.
Peran individu, kecil tapi menentukan.
Ia juga sempat menyinggung soal ruang publik, terutama yang sekarang banyak berpindah ke dunia digital. Di sana, perbedaan pendapat sering berubah jadi perdebatan panjang, kadang melebar ke mana-mana. Tidak semua salah. Diskusi itu penting. Tapi kalau sudah berubah jadi konflik tanpa arah, yang tersisa biasanya hanya jarak.
Dan itu yang perlu di hindari.
Bagi Pramono, kalau saling menghargai benar-benar di tempatkan di depan—bukan di belakang sebagai pelengkap—maka menjaga persatuan bukan lagi tugas yang terasa berat. Ia jadi sesuatu yang lebih… masuk akal. Lebih dekat dengan keseharian.
Karena pada akhirnya, persatuan bukan di bangun dari hal besar saja. Tapi dari kebiasaan kecil. Cara kita melihat orang lain. Dan, mungkin yang paling sulit, cara kita menerima bahwa tidak semua orang harus sama.
