jakartaid – Langkah sepatu gunung kembali berdetak di jalur Senaru. Riuh obrolan porter, bau kopi instan, tenda warna-warni—semuanya menandakan musim pendakian Rinjani bangkit setelah masa sepi berkepanjangan.
Sejak gerbang resmi di buka beberapa pekan lalu, antrean izin mendaki nyaris tak pernah putus. Ada mahasiswa Jakarta yang mengejar sunrise di Plawangan, ada turis Prancis penasaran danau Segara Anak, ada pula pendaki veteran yang rindu sengatan jalur pasir. Mereka berjejalan di pos registrasi, memeriksa ulang logistik, menimbang jaket—gunung ini terkenal kejam saat malam menggigit.
Pengelola Taman Nasional tak mau kecolongan. Kuota harian di perketat, rombongan di bagi gelombang, dan setiap porter di wajibkan membawa kantong sampah ekstra untuk memastikan jalur turun tak berubah jadi lintasan plastik. Petugas patroli rutin memeriksa tenda, menegur siapa pun yang nekat menyalakan api unggun di luar titik aman.
Di kaki gunung, ekonomi kecil ikut bernapas lega. Warung nasi di Sembalun kembali penuh, toko penyewaan trekking pole kehabisan stok, sopir pick-up merapikan terpal demi mengangkut rombongan berikutnya. “Dua tahun sepi, sekarang syukur bisa muter lagi,” kata Pak Marhun, pemilik homestay sederhana, sambil menandai kalender penuh reservasi.
Namun euforia tak menutupi fakta rapuhnya ekosistem Rinjani. Jalur pasir yang tergerus, bekas tisu basah di balik batu, dan bekas botol gas berserakan masih menghantui. Ranger memasang papan imbauan: “Bawa turun sampahmu, atau denda menunggu.” Beberapa pendaki muda tersenyum pahit—mereka tahu, pemandangan megah bisa lenyap jika disiplin kendur.
Gunung Rinjani bukan sekadar objek wisata; ia semacam ritual: uji napas, uji sabar, uji kesadaran menjaga alam. Dan ketika kabut pagi tercabik matahari di puncak 3.726 meter, semua jerih payah terbayar tunai. Kini tugas berikutnya sederhana namun vital—membiarkan keajaiban itu bertahan, meski ribuan kepala terus berdatangan tiap musim.
