jakartaid — Amerika Serikat kembali jadi sasaran kritik di Dewan Keamanan PBB.
Sumbernya: serangan militer mendadak ke Venezuela.
Presiden Nicolás Maduro di tangkap. Langsung. Bersama istrinya.
Operasi itu bikin kaget. Tak ada mandat dari DK PBB.
Tapi pasukan AS tetap masuk. Caracas jadi sorotan dunia dalam hitungan jam.
Rapat Darurat Langsung Di gelar
Delegasi dari berbagai negara berkumpul. Suasana panas.
Sekutu AS pun mulai angkat suara. Inggris, Prancis—bahkan Brasil—ikut sorot langkah Washington.
“Ini pelanggaran,” kata salah satu perwakilan. “Tak bisa negara seenaknya tangkap kepala negara lain.”
Serangan Tanpa Mandat, Dunia Bereaksi
Wakil China dan Rusia bersuara keras.
Mereka bilang ini bukan cuma soal Venezuela. Tapi soal aturan main global. Soal siapa yang berhak melakukan apa.
Delegasi dari Amerika Latin makin geram. “Hari ini Venezuela. Besok siapa?”
Sekjen PBB Angkat Suara Lewat Jubirnya
António Guterres tak hadir langsung. Tapi pernyataannya cukup tegas.
“Setiap negara punya kedaulatan. Tak bisa di langgar begitu saja. Apalagi tanpa keputusan bersama.”
Respon Dunia Tak Satu Suara
Beberapa negara memilih diam. Atau bicara setengah hati.
Sisanya tegas. Menolak.
Ada juga yang mulai desak investigasi independen atas operasi militer itu.
Diplomasi Vs Aksi Militer
Seruan solusi damai mulai terdengar. Dari Jerman, Norwegia, India.
Mereka minta konflik di selesaikan lewat dialog. Bukan dengan senjata.
Pertemuan DK PBB Belum Putuskan Sikap
Sampai artikel ini di turunkan, belum ada resolusi keluar.
Perdebatan masih jalan.
Tapi satu hal jelas—serangan AS ke Venezuela bikin dunia makin panas.
Dan bikin pertanyaan besar: siapa yang bisa menahan negara adidaya?
