jakartaid.com – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, buka suara. Dalam pernyataan resminya yang pertama sejak menjabat, ia menuding keterlibatan pihak asing dalam aksi demonstrasi yang belakangan berubah rusuh di sejumlah wilayah Iran.
Pezeshkian menyebut dua nama: Amerika Serikat dan Israel.
Menurutnya, aksi-aksi itu tidak lahir dari dinamika internal semata. Tapi juga karena campur tangan luar. “Ada agenda eksternal yang sengaja ingin mengguncang,” ujarnya dalam pernyataan yang di siarkan televisi nasional.
Ia menilai pola ini bukan hal baru. Tekanan lewat kerusuhan, katanya, sering di gunakan untuk mengacaukan stabilitas politik dan sosial Iran.
Pemerintah, sambungnya, tetap pada jalurnya. Stabilitas dan hukum jadi prioritas utama. Ia mengaku mendengar suara masyarakat, tapi memperingatkan: “Kekerasan dan perusakan bukan cara menyampaikan aspirasi.”
Pernyataan ini datang saat sorotan global terhadap Iran makin besar. Beberapa kota di guncang demonstrasi. Sebagian berakhir ricuh. Polisi di kerahkan. Pemerintah bilang itu langkah pengendalian, bukan penindasan.
Di sisi lain, tuduhan ke AS dan Israel memperpanjang daftar ketegangan. Hubungan Iran dengan dua negara itu memang tak pernah mulus. Isu regional, nuklir, dan keamanan terus jadi bahan gesekan.
Pezeshkian menutup pernyataannya dengan ajakan. Ia menyerukan agar rakyat bersatu. Baik dalam menghadapi tekanan dari luar, maupun tantangan yang datang dari dalam negeri sendiri.
Pemerintah juga menyatakan akan terus mengikuti perkembangan dan tak ragu ambil langkah tegas bila situasi menuntut.
