Irigasi Tersier Dikebut, Menteri PU: Air Jangan Berhenti di Tengah Jalan

jakartaid.com — Kalau bicara soal pertanian, orang sering langsung mikir pupuk. Atau benih. Kadang harga gabah. Padahal ada satu hal yang lebih mendasar—air. Dan bukan cuma soal ada atau tidak, tapi sampai atau tidak.

Di banyak tempat, air itu sebenarnya ada. Mengalir di saluran besar, lewat bendungan, lewat jaringan utama. Tapi begitu masuk ke jalur kecil—yang benar-benar menuju sawah—ceritanya sering beda.

Seret. Tidak merata. Bahkan kadang tidak sampai sama sekali.

Di situ letak persoalannya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sekarang mendorong percepatan pembangunan irigasi tersier. Bukan proyek yang kelihatan besar dari luar, tapi justru yang paling dekat dengan petani.

Dan mungkin, yang paling menentukan.

Irigasi tersier ini ibarat ujung perjalanan air. Dari hulu yang jauh, akhirnya berhenti—atau seharusnya berhenti—di petak sawah. Kalau di titik ini macet, ya selesai. Mau sebanyak apa pun air di atas, tidak ada gunanya.

Makanya, penekanan dari Menteri PU cukup lugas. Infrastruktur seperti ini bukan pelengkap. Ini inti. Tanpa distribusi air yang rapi, produktivitas ya akan segitu-segitu saja.

Petani jadi bergantung pada cuaca. Hujan turun, panen aman. Hujan terlambat, mulai was-was. Pola lama yang sebenarnya ingin dihindari.

Dengan jaringan yang lebih baik, harapannya sederhana—air bisa di atur. Tidak lagi acak. Tidak lagi untung-untungan.

Tapi tentu saja, ini bukan pekerjaan cepat. Di atas kertas mungkin terlihat lurus: bangun saluran, alirkan air, selesai. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ada koordinasi dengan daerah. Ada kondisi lahan yang berbeda-beda. Belum lagi keterlibatan kelompok tani yang sering justru lebih paham kondisi lapangan di banding perencana di meja.

Dan itu penting.

Karena kalau salah bangun, atau tidak sesuai kebutuhan, ujungnya sama saja—air tetap tidak sampai.

Pemerintah melihat ini sebagai bagian dari strategi yang lebih besar. Ketahanan pangan. Istilah yang sering di sebut, tapi isinya memang kompleks. Tidak bisa hanya mengandalkan satu sisi.

Dan irigasi, terutama yang tersier ini, jadi salah satu fondasinya.

Memang tidak terlihat “wah”. Tidak viral. Tidak juga jadi proyek yang sering di pamerkan.

Tapi bagi petani, ini beda cerita.

Karena pada akhirnya, yang mereka butuhkan bukan sekadar air mengalir. Tapi air yang benar-benar sampai ke sawah mereka.