Rano Karno Ingatkan Jakarta: El Niño Bisa Picu Ledakan Demam Berdarah

jakartaid – Hujan tersendat, matahari terasa lebih gahar, dan genangan air—anehnya—justru makin banyak tersembunyi di sudut halaman. Kondisi inilah yang memaksa Wakil Gubernur Rano Karno angkat mikrofon dan berpesan tegas: “Jangan remehkan DBD. El Niño mengubah pola cuaca, nyamuk Aedes justru pesta pora.”

Ia merinci bahaya yang mungkin terlewat. Saat panas panjang datang, warga cenderung menampung air di ember atau talang—lupa menutup rapat. Air yang tenang, walau setipis genangan tutup botol, sudah cukup bagi larva berkembang. “Satu rumah lengah, satu RT bisa kena,” ujar Rano, setengah menggertak, setengah mengingatkan.

Pemprov, katanya, tak tinggal diam: jadwal fogging di perketat, kader jumantik keliling menyisir bak mandi, dan kanal aduan digital di buka 24 jam. Tetapi birokrat tahu batas—tanpa gotong royong warga, nyamuk akan selalu menemukan celah. Maka slogan 3M (menguras, menutup, mengubur) di dengungkan lagi, kali ini di tambah ‘monitor’—monitor suhu badan, monitor titik panas cuaca, monitor tetangga yang baru pulang demam.

Dokter juga ikut bersuara: kenali gejala awal—demam tinggi mendadak, nyeri sendi, bintik merah. Jangan tunda ke puskesmas; statistik menunjukkan penanganan 24 jam pertama kerap menentukan akhir cerita, apakah pasien pulang sehat atau di rujuk ke IGD.

Rano menutup pernyataannya dengan nada agak teatrikal—maklum, darah seniman masih kental: “El Niño mungkin membuat langit kita kering, tapi sumur air bersih tetap bisa jadi kolam sarang nyamuk kalau di biarkan. Pilihan ada di tangan kita.”

Pesan jelas: sebelum menuduh cuaca ekstrem sebagai biang keladi, pastikan ember di belakang rumah tak diam‐diam berubah jadi inkubator penyakit. Karena di kota sebesar Jakarta, rantai DBD sering berawal dari hal sepele—dan berakhir di bangsal rumah sakit.