Aceh Didatangi Tim Asing, DPR Angkat Suara: Jangan Lupa Jalur Resmi

JAKARTA —
Di tengah upaya pencarian korban banjir yang belum di temukan, Gubernur Aceh Muzakir Manaf ambil langkah cepat. Ia datangkan tim dari China, yang katanya punya alat canggih untuk cari jasad di bawah timbunan lumpur. Tapi, langkah ini justru bikin Komisi I DPR RI angkat bicara.

Dave Laksono dari Komisi I mengaku paham situasi darurat yang di hadapi Aceh, tapi ia ingatkan: kerja sama dengan pihak luar negeri tetap harus ikuti prosedur.

“Bukan berarti karena darurat, semuanya bisa di jalankan tanpa koordinasi. Kita punya mekanisme,” ujar Dave saat di wawancarai lewat sambungan telepon, Minggu siang.

Menurutnya, kehadiran pihak asing di wilayah Indonesia bukan sekadar soal alat bantu, tapi juga berkaitan dengan kedaulatan. “Itu wilayah kita. Harus jelas izinnya, siapa datang, untuk apa, dan lewat jalur mana,” katanya.

Tim dari China yang datang ke Aceh terdiri dari lima orang. Mereka bawa alat yang konon bisa mendeteksi mayat di bawah endapan lumpur. Mualem menyebut alat itu di butuhkan karena lumpur di beberapa daerah sudah mencapai pinggang.

“Kita butuh alat mereka. Secara manual sangat susah. Masih ada banyak yang tertimbun,” ujar Mualem dalam keterangan Sabtu kemarin.

Wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara jadi fokus utama. Di sana, proses evakuasi jalan lambat karena medan berat.

Dave bilang, niat bantu itu bagus. Tapi, ia tetap ingatkan agar semua dilakukan sesuai jalur. “Kalau semua transparan dan resmi, kita semua enak. Bantuan jalan, negara tetap terjaga,” tutupnya.