jakartaid.com – Menjelang waktu berbuka, suasana Jakarta Selatan selalu berubah. Trotoar yang biasanya lengang mendadak di penuhi gerobak takjil. Pasar tradisional lebih padat dari biasanya. Orang berburu kolak, gorengan, lauk siap santap—apa saja yang bisa di bawa pulang sebelum azan magrib.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Pemerintah Kota Jakarta Selatan memilih untuk tidak sekadar menonton.
Ramadhan tahun ini, pengawasan pangan di perketat. Satuan tugas—satgas—di turunkan. Mereka menyisir pasar, sentra takjil, sampai lapak-lapak musiman yang muncul dadakan selama bulan puasa. Fokusnya jelas: memastikan makanan yang beredar aman di konsumsi.
Wali Kota Jakarta Selatan menyebut pengawasan tidak di lakukan setengah hati. Bahan pangan segar di periksa. Makanan olahan ikut di cek. Produk yang di curigai berpotensi mengandung zat berbahaya jadi perhatian khusus. Inspeksi mendadak pun masuk agenda. Tanpa pemberitahuan, petugas datang langsung ke lokasi.
Bukan cuma soal tampilan bersih atau tidak. Pemeriksaan juga menyentuh masa kedaluwarsa, izin edar, sampai kelayakan konsumsi. Hal-hal yang kadang luput dari perhatian pembeli yang terburu waktu menjelang berbuka. Kalau di temukan pelanggaran, pendekatannya bertahap—mulai dari pembinaan sampai penindakan sesuai aturan.
Ramadhan memang membawa berkah ekonomi. Tapi di saat yang sama, risiko juga meningkat. Permintaan tinggi sering kali menggoda sebagian oknum untuk mengambil jalan pintas. Di sinilah pengawasan menjadi penting. Bahkan krusial.
Pemkot Jaksel tidak bekerja sendiri. Koordinasi di lakukan dengan dinas kesehatan dan dinas ketahanan pangan. Sampel makanan di ambil secara acak. Di bawa ke laboratorium. Di uji—apakah ada formalin, boraks, atau pewarna tekstil yang di larang. Nama-nama zat itu mungkin terdengar teknis, tapi dampaknya nyata. Bisa berbahaya.
Pengawasan ini bukan semata soal menindak. Ada sisi edukasi yang juga di tekankan. Pedagang di berikan sosialisasi, di ingatkan kembali soal pentingnya menjaga kualitas dagangan. Bahwa keuntungan sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan konsumen. Dan reputasi usaha, sekali tercoreng, sulit di pulihkan.
Ramadhan selalu identik dengan kebersamaan. Makan sahur bersama keluarga. Berbuka dengan teman. Tradisi itu tidak boleh terganggu oleh makanan yang tak layak konsumsi. Itu barangkali yang menjadi garis besar kebijakan ini.
Pengawasan akan berlangsung sepanjang bulan puasa. Evaluasi di lakukan berkala, melihat temuan di lapangan. Jika ada celah, akan di perbaiki. Jika ada pelanggaran, akan di tindak.
Di balik semangkuk kolak atau sepiring nasi uduk untuk berbuka, ada proses panjang yang ingin di jaga—agar warga Jakarta Selatan bisa makan dengan tenang. Tanpa rasa waswas. Tanpa pertanyaan, “Aman nggak, ya?”
