jakartaid.com – Jakarta akan kembali punya hajatan budaya. Bukan yang baru, justru yang lama—dan itu yang bikin menarik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memastikan, Lebaran Betawi 2026 bakal di gelar pada 10 sampai 12 April. Tiga hari. Tidak panjang, tapi biasanya padat. Dan ya, bukan sekadar acara seremonial yang lewat begitu saja.
Lebaran Betawi selalu punya nuansa berbeda.
Ada suasana kampung yang “di pindahkan” ke tengah kota. Kadang terasa kontras, tapi justru di situ letaknya. Tradisi lama bertemu dengan ritme Jakarta yang cepat. Dan selama beberapa hari itu, ritme seolah di perlambat sedikit.
Rencananya, rangkaian acara akan di isi dengan pertunjukan seni tradisional. Ondel-ondel, lenong, musik khas Betawi—yang dulu mungkin sering terlihat, sekarang justru jadi sesuatu yang perlu “di hadirkan kembali”. Bukan karena hilang, tapi karena mulai jarang terlihat di keseharian kota.
Lalu ada kuliner. Ini bagian yang biasanya tidak pernah sepi.
Kerak telor, soto Betawi, aneka jajanan yang mungkin lebih sering muncul di acara tertentu ketimbang di hari biasa. Orang datang, makan, lalu cerita—kadang bukan cuma soal rasa, tapi juga nostalgia. Itu yang sering terjadi.
Di sisi lain, ada juga pameran produk budaya. Dari kerajinan sampai hal-hal yang lebih kontemporer, tapi masih punya akar Betawi. Tidak selalu tradisional dalam bentuk lama, tapi tetap membawa identitas yang sama.
Menariknya, acara ini tidak berdiri sendiri.
Banyak komunitas budaya, seniman, sampai pelaku usaha kecil ikut terlibat. Jadi bukan hanya pemerintah yang “menggelar”, tapi ada kolaborasi yang membuat acaranya terasa lebih hidup. Lebih organik, kalau boleh di bilang.
Dan tentu saja, ada sisi lain yang tidak bisa di abaikan: ekonomi.
Setiap kali Lebaran Betawi di gelar, pengunjung biasanya datang dari berbagai daerah. Tidak cuma warga Jakarta. Ini membuka peluang—terutama untuk UMKM. Dari makanan, suvenir, sampai jasa—semua ikut bergerak.
Pemerintah daerah sendiri mengklaim sudah siap. Fasilitas di siapkan, pengamanan juga di perhitungkan. Hal-hal teknis yang mungkin tidak terlihat langsung, tapi penting supaya acara berjalan tanpa gangguan.
Sisanya tinggal bagaimana masyarakat merespons.
Karena pada akhirnya, acara seperti ini bukan cuma soal jadwal dan panggung. Tapi soal partisipasi. Soal apakah orang masih merasa punya keterikatan dengan budaya itu—atau setidaknya, ingin mengenalnya lebih dekat.
Lebaran Betawi 2026 mungkin hanya tiga hari. Tapi dalam waktu singkat itu, ada upaya yang lebih panjang: menjaga sesuatu yang pelan-pelan bisa saja terlupakan, kalau tidak terus di hidupkan.
