‘Mandiri Sahabatku 2026’: Dorongan Nyata untuk PMI dan Diaspora dari Hong Kong ke Nusantara

jakartaid.com –  awal 2026 — Sebuah ruangan di isi senyum haru, tangan yang saling menepuk, dan kisah-kisah pulang membawa perubahan. Itulah suasana saat Bank Mandiri kembali menggulirkan program Mandiri Sahabatku di tahun yang baru. Bukan sekadar acara seremonial, tapi ajang nyata yang jadi saksi bagaimana para Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan di aspora terus melaju—bukan cuma sebagai pengirim devisa, tapi calon penggerak ekonomi mandiri.

Ini bukan proyek kemarin sore. Selama 2025, lebih dari 2.400 PMI dan diaspora ikut serta dalam program pelatihan dan pembinaan. Dan tahun ini, program masuk ke babak baru: 2026, dengan wajah yang lebih digital, lebih berani.

Bank Mandiri tak sendirian. Ada kolaborasi lintas instansi—perwakilan pemerintah RI di luar negeri ikut duduk di barisan depan. Pesannya jelas: negara memperhatikan, dan bukan cuma lewat jargon.

Di atas panggung, pejabat Mandiri menyampaikan harapan agar PMI bisa pulang bukan hanya dengan tabungan, tapi juga dengan kemampuan. Dengan pola pikir baru. Dengan kapasitas sebagai wirausaha. Kalimat-kalimat yang, buat banyak peserta, bukan sekadar motivasi—tapi pembenaran atas mimpi yang selama ini mereka bawa diam-diam di dalam koper kerja.

Acara ini bukan cuma soal pidato. Ada pelatihan. Ada lokakarya. Ada sesi di mana peserta di ajak berpikir ulang tentang cara mengelola uang, membuka peluang usaha, bahkan cara melihat diri sendiri. Bahwa mereka bukan buruh—tapi manusia produktif, yang suatu saat bisa buka lapangan kerja sendiri.

Dan yang paling menyentuh? Saat penghargaan di berikan. Bukan kepada siapa yang paling kaya. Tapi kepada mereka yang paling tangguh. Yang bisa berdiri walau jatuh berkali-kali. Yang diam-diam mengubah dapur kecil jadi bisnis makanan online lintas kota. Yang berani. Yang tidak menyerah.

Bank Mandiri juga memperkenalkan kembali Livin’ Around The World (LATW)—layanan digital untuk bantu PMI dan di aspora kelola uang lintas negara. Tujuannya sederhana tapi penting: supaya uang yang mereka kirim, kelola, atau investasikan… gak hilang begitu saja. Tapi jadi pijakan. Jadi awal. Bukan akhir.

Di balik semua ini, ada satu benang merah: program ini bukan soal angka. Tapi soal arah. Soal bagaimana kelompok yang sering kali terlupakan bisa di ajak masuk dalam arus ekonomi—dari bawah, dari pinggir, tapi dengan daya dorong besar.

Mandiri Sahabatku 2026 bukan jawaban semua masalah. Tapi ia memberi ruang. Dan kadang, itu yang paling di butuhkan: ruang untuk tumbuh, tanpa di cemooh. Ruang untuk kembali ke tanah air dengan kepala tegak.