jakartaid.com – Mudik selalu soal angka besar. Jutaan orang bergerak hampir bersamaan. Jalan tol padat. Terminal penuh. Pelabuhan dan bandara tak pernah benar-benar sepi. Tapi di balik euforia pulang kampung itu, ada satu hal yang kerap jadi variabel tak terduga: cuaca.
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengingatkan soal itu. Mitigasi bencana, katanya, harus jadi bagian dari persiapan mudik Lebaran. Bukan pelengkap. Bukan formalitas.
Karena yang di hadapi bukan cuma lonjakan kendaraan. Ada potensi banjir di jalur darat. Tanah longsor di wilayah perbukitan. Gelombang tinggi untuk penyeberangan laut. Bahkan turbulensi dan gangguan cuaca ekstrem untuk penerbangan. Semua itu nyata. Dan berulang hampir setiap tahun.
Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Perhubungan butuh dukungan BMKG untuk prakiraan cuaca. Butuh kepolisian untuk pengaturan lalu lintas. Butuh pemerintah daerah untuk respons cepat jika terjadi gangguan di wilayah rawan.
Sejumlah titik rawan sudah di petakan. Jalur darat, laut, udara—masing-masing punya catatan sendiri. Di beberapa ruas, banjir jadi langganan. Di tempat lain, longsor bisa menutup akses dalam hitungan jam. Pemetaan ini, kata dia, di harapkan mempercepat respons ketika situasi memburuk.
Karena saat arus mudik sudah berjalan, waktu terasa lebih sempit.
Selain itu, operator transportasi di minta meningkatkan kesiapsiagaan. Pemeriksaan kendaraan tidak boleh sekadar administratif. Bus, kapal, pesawat—semuanya harus di pastikan laik jalan dan laik operasi. Pemeriksaan rutin bukan basa-basi. Kecelakaan sering kali berawal dari kelalaian kecil.
Masyarakat juga di imbau lebih aktif memantau informasi resmi. Cek kondisi cuaca sebelum berangkat. Periksa jalur alternatif jika ada peringatan gangguan. Mudik memang tradisi, tapi keselamatan tetap nomor satu. Klise mungkin, tapi tetap relevan.
Pemerintah memperkirakan jutaan orang akan bergerak selama periode Idul Fitri. Arus mudik dan arus balik sama-sama menantang. Maka mitigasi bencana bukan sekadar wacana teknis. Ini soal menjaga agar perjalanan panjang itu berakhir dengan selamat—bukan sebaliknya.
Di musim mudik, yang di bawa orang bukan hanya koper dan oleh-oleh. Ada harapan untuk sampai ke rumah dengan aman. Dan itu, pada akhirnya, yang ingin di jaga.
