jakartaid.com – New York tak pernah benar-benar sepi. Di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, suara berbagai bahasa bersahutan, agenda berganti cepat, dan setiap kepala negara datang membawa narasi masing-masing. Di tengah suasana itu, Presiden terpilih Prabowo Subianto berdiri dan menyampaikan satu pesan yang ingin ia tekankan berulang kali: Indonesia, katanya, makin mendekati target penghapusan kemiskinan dan kelaparan ekstrem.
Ia tidak berbicara berputar-putar. Nada yang di bangun cenderung optimistis, meski tetap di balut bahasa diplomasi. Prabowo menyebut sejumlah indikator sosial dan ekonomi menunjukkan perbaikan. Angka kemiskinan ekstrem di tekan, program sosial di perluas, dan pemerintah—menurutnya—terus menjaga ritme kerja agar hasilnya terasa di lapangan.
Soal kemiskinan, ia tak memosisikannya sebagai sekadar urusan statistik. Ada dimensi yang lebih konkret. Bantuan sosial, program pemberdayaan ekonomi, hingga perlindungan bagi kelompok rentan disebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan. Pemerintah, kata dia, tidak hanya ingin menumbuhkan ekonomi, tapi juga memastikan hasilnya menyentuh masyarakat yang paling membutuhkan.
Isu kelaparan dan ketahanan pangan ikut mendapat sorotan. Prabowo mengingatkan bahwa persoalan pangan kini tak bisa di lepaskan dari dinamika global. Gangguan rantai pasok, konflik antarnegara, perubahan iklim—semuanya berkelindan. Dalam konteks itu, Indonesia di sebut sedang memperkuat sektor pertanian, memperbaiki distribusi, dan memastikan akses bantuan tetap terbuka bagi warga rentan.
Kalimatnya mungkin terdengar normatif. Namun pesan yang ingin di tegaskan jelas: kemiskinan dan kelaparan ekstrem bukan semata persoalan domestik. Ini isu lintas batas. Karena itu, kerja sama global menjadi penting. PBB, dalam hal ini, di pandang sebagai ruang untuk menyamakan langkah.
Prabowo juga menyinggung soal stabilitas. Bagi dia, stabilitas ekonomi dan politik bukan sekadar jargon, melainkan prasyarat. Tanpa kondisi yang relatif tenang dan terkendali, upaya pengentasan kemiskinan akan sulit konsisten. Pertumbuhan ekonomi, ujarnya, harus berjalan beriringan dengan pemerataan. Tidak cukup tinggi, tapi juga harus adil.
Forum PBB di manfaatkan Indonesia untuk menyampaikan capaian sekaligus arah kebijakan ke depan. Di hadapan komunitas internasional, Prabowo kembali menegaskan komitmen terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan—terutama dalam mengurangi kemiskinan dan menghapus kelaparan ekstrem.
Pesan itu mungkin sudah sering terdengar di berbagai forum. Namun di panggung global, setiap pernyataan memiliki bobotnya sendiri. Setidaknya, dari podium PBB, Indonesia ingin menunjukkan bahwa pekerjaan rumah soal kemiskinan masih ada—tetapi jaraknya, klaim pemerintah, semakin dekat ke titik akhir.
