jakartaid – Tiap Natal datang, satu lagu ini hampir pasti terdengar. Di mana-mana. Di mal, di radio, dari pengeras suara kecil di pasar malam.
Feliz Navidad.
Liriknya pendek. Bahkan sangat pendek. Cuma dua baris yang di ulang-ulang.
Tapi itu saja cukup.
José Feliciano menulisnya tahun 1970. Saat itu ia tinggal jauh dari tanah kelahirannya, Puerto Riko.
Dan ia rindu. Sangat rindu.
Tidak Banyak Kata, Tapi Kena
Lagu ini tidak menjanjikan puisi. Tidak butuh bait panjang. Isinya sederhana:
“Feliz Navidad, próspero año y felicidad.”
“I wanna wish you a Merry Christmas.”
Itu saja. Di ulang terus. Dan entah kenapa, tidak membosankan.
“Justru karena itu semua orang bisa nyanyi. Tidak harus ngerti Spanyol. Tidak harus jago Inggris,” kata Luis Mendoza, musisi Latin di Los Angeles, saat di temui seusai konser amal Natal pekan lalu.
Natal Tak Perlu Rumit
Lagu Natal lain kadang berlarut-larut. Pakai paduan suara. Kadang ada orkestra penuh.
Feliciano tidak pakai itu.
Ia hanya ingin menyampaikan rindu. Dan doa. Dengan cara yang ringan.
Mungkin karena itu justru melekat. Tidak menuntut untuk di pahami. Cukup di dengar, cukup di nyanyikan. Sisanya terasa sendiri.
Dari Puerto Riko ke Seluruh Dunia
Awalnya, ini lagu pribadi. Tapi dunia mendengarnya.
Dari tahun ke tahun, lagu ini di bawakan ulang. Versinya macam-macam. Dari jazz sampai metal. Dari anak-anak sampai penyanyi opera.
“Kadang saya dengar versi yang saya sendiri lupa pernah rekam,” Feliciano pernah bercanda dalam sebuah wawancara lama dengan stasiun TV di Spanyol.
Lagu ini seperti salju. Turun perlahan. Tapi menyelimuti ke mana-mana.
Dan Lagu Itu Tak Pernah Tua
Setengah abad lebih sudah lewat. Tapi Feliz Navidad tetap hadir. Tanpa perlu di perkenalkan ulang.
Dua baris tadi—masih menyala tiap Desember.
Dan tampaknya akan terus begitu. Entah sampai kapan.
