jakartaid.com — Wali Kota Bandung Farhan buka suara soal dampak proyek BRT Bandung Raya. Yang jadi perhatian sekarang: parkir dan PKL.
Dua hal itu di nilai paling terdampak. Dan paling cepat memicu keluhan warga kalau nggak di tangani sejak awal.
“Penataan ini prioritas. Karena BRT itu otomatis ubah struktur jalan dan trotoar,” ujar Farhan, kemarin di Balai Kota.
Beberapa titik memang sudah mulai berubah. Ruang parkir menyempit. Trotoar yang biasanya jadi tempat mangkal PKL ikut tergusur.
Pemerintah Kota mengaku sedang siapkan skema. Bukan cuma soal parkir. Tapi juga relokasi sementara bagi para pedagang.
Semua di bahas lintas dinas. Termasuk dengan pihak terkait dan perwakilan PKL. Karena menurut Farhan, solusi yang di ambil harus tetap berpihak ke masyarakat bawah.
Penataan ini, katanya, nggak permanen. Sifatnya fleksibel. Di sesuaikan dengan progres pembangunan BRT di lapangan.
Yang di khawatirkan justru dampak ekonomi. Banyak pedagang yang selama ini bertahan hidup dari jualan di pinggir jalan. Mereka tak boleh di tinggal begitu saja.
Di sisi lain, proyek BRT dianggap penting. Investasi jangka panjang. Tujuannya: bikin transportasi publik lebih layak.
Farhan minta masyarakat ikut mendukung. Meski mengganggu di awal, ia yakin hasil akhirnya akan menguntungkan banyak pihak.
Pemkot juga janji bakal evaluasi rutin. Kalau ada yang nggak beres, akan di kaji ulang.
Parkir dan PKL jadi sorotan karena memang bersentuhan langsung dengan warga. Harapannya, penataan bisa imbang — mobilitas jalan tetap lancar, tapi urusan perut warga juga aman.
