jakartaid.com – Langit di atas Kota Tua Jakarta malam ini tak akan gelap seperti biasanya. Ada yang berbeda. Sorot cahaya, warna-warni lampu, dan proyeksi visual bakal menyapu dinding bangunan-bangunan tua yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu.
Jakarta Light Festival di gelar di kawasan itu—di jantung sejarah ibu kota, di antara arsitektur klasik yang selama ini lebih sering terlihat temaram menjelang malam. Kali ini, fasad-fasad tua itu jadi “kanvas”. Cahaya di tembakkan ke permukaan gedung, mengikuti lekuk jendela, pilar, dan ornamen yang mungkin sering luput dari perhatian.
Instalasi lampu di pasang di sejumlah titik. Ada permainan warna, ada proyeksi visual yang di sesuaikan dengan tata ruang kawasan. Jadi bukan sekadar terang-benderang, tapi di rancang mengikuti karakter Kota Tua sendiri. Nuansa klasiknya tetap ada, hanya saja kini di balut cahaya yang lebih hidup. Kontras, tapi justru di situ daya tariknya.
Acara ini terbuka untuk umum. Siapa pun bisa datang, berjalan kaki menyusuri area, berhenti di sudut tertentu untuk memotret atau sekadar menikmati suasana. Penyelenggara memastikan aparat keamanan dan petugas terkait di siagakan. Keramaian sudah bisa di perkirakan, apalagi jika cuaca mendukung.
Bukan cuma soal tontonan, festival ini juga bagian dari upaya menghidupkan lagi ruang publik. Kota Tua, yang selama ini di kenal sebagai destinasi wisata sarat nilai sejarah dan budaya, ingin terus di ramaikan. Bukan hanya siang hari oleh wisatawan, tapi juga malam hari oleh warga yang ingin menikmati wajah lain Jakarta.
Tentu saja, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan. Pengunjung di imbau mengikuti pengaturan lalu lintas dan arahan petugas di lapangan. Datang beramai-ramai itu menyenangkan, tapi tetap harus tertib. Soal kebersihan pun di ingatkan—karena setelah lampu padam dan panggung di bongkar, kawasan ini tetap harus kembali seperti semula.
Malam ini, Kota Tua bukan hanya tentang masa lalu. Ia akan bersinar, secara harfiah. Dan mungkin, untuk beberapa jam, Jakarta terasa sedikit berbeda.
