jakartaid.com – Ruang utama Museum Nasional Indonesia siang itu tak hanya di penuhi patung dan prasasti. Ada pidato. Ada sorot lampu. Dan ada pesan yang, terus terang saja, terdengar klasik—tapi mungkin memang perlu di ulang.
Presiden terpilih Prabowo Subianto berbicara soal jati diri bangsa. Soal identitas. Soal bagaimana sebuah negara tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah dunia yang, kata orang-orang, berubah terlalu cepat.
Ia tidak memulai dengan teori panjang. Langsung ke inti. Globalisasi, perkembangan teknologi, arus informasi—semuanya bergerak kencang. Tidak ada yang bisa benar-benar menahan laju itu. Tapi, menurutnya, ada satu hal yang tidak boleh ikut hanyut: karakter nasional.
Kalimat itu mungkin terdengar familiar. Tapi ketika di ucapkan di dalam museum—di antara benda-benda yang usianya ratusan bahkan ribuan tahun—ia terasa berbeda.
Prabowo menyebut sejarah dan kebudayaan sebagai fondasi. Bukan ornamen. Bukan pelengkap. Fondasi. Tanpa pemahaman atas sejarah sendiri, bangsa ini, katanya, bisa kehilangan arah. Bisa goyah. Bisa mudah terombang-ambing.
Ia beberapa kali menekankan pentingnya generasi muda mengenal akar budayanya. Museum, menurutnya, punya peran strategis dalam hal itu. Tempat ini bukan sekadar lokasi studi tur sekolah atau latar foto dokumentasi. Lebih dari itu. Ia melihat museum sebagai ruang belajar tentang identitas.
Acara tersebut di hadiri pejabat, tokoh budaya, dan sejumlah undangan lain. Ada peninjauan koleksi. Ada diskusi soal pelestarian warisan budaya. Formatnya resmi, tentu saja. Tapi isi pesannya mengarah pada sesuatu yang lebih reflektif.
Prabowo juga menyebut penguatan jati diri bukan semata tugas pemerintah. Ia menyinggung peran keluarga, pendidikan, komunitas. Artinya, ini bukan proyek satu kementerian. Bukan pula sekadar program lima tahunan.
Di satu sisi, pesan seperti ini sering kita dengar dalam berbagai kesempatan. Di sisi lain, mungkin memang harus sering di ulang. Karena tantangan yang di hadapi pun berulang, hanya bentuknya yang berbeda.
Museum Nasional sendiri menyimpan ribuan artefak yang merekam perjalanan panjang Indonesia—dari masa prasejarah hingga periode kerajaan dan kolonial. Benda-benda itu tak berbicara. Tapi mereka mengingatkan.
Dan di tengah koleksi yang diam itulah, pidato tentang identitas bangsa kembali di suarakan. Sebuah pengingat bahwa sebelum melangkah jauh ke depan, bangsa ini perlu tahu betul dari mana ia berasal.
